my dance with syta

...because the earth is moving, the world is turning upside down and dance will be last forever...

Saturday, March 31, 2007

Ronn, nih cerita soal Si Bapak Kost

Teman saya Ronn, mengingatkan saya untuk menulis blog tentang bapak kost saya (Ronn, sabar donk! Terlalu banyak ide di kepala saya untuk dituangkan ke dalam blog, jadi kamu harus sabar…).

Beberapa hari ini saya sudah tidak pernah lagi berenang di kost saya. Pertama, karena saya sendiri sudah jarang sekali menginap disana. Kedua, karena bapak kost saya ‘psycho’.

Begini ceritanya:

Setelah keluar kota dalam jangka waktu yang lumayan lama, akhirnya saya berlabuh kembali ke kost saya yang nyaman.
Home sweet home!
Saat itu jam 12 siang. Tak heran bila kost nampak sepi karena 5 penghuninya yang lain tentunya sedang berada di kantor masing-masing. Menurut informasi si Bibik, ibu kost sekeluarga juga baru berangkat ke Bandung pagi harinya.
Saya senang-senang saja. Semakin sepi semakin baik, menurut saya. Jadi saya bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk memakai dapur, berenang, mendengarkan musik keras-keras dan ngobrol dengan si Bibik tanpa harus meninggalkan kamar (maksudnya, berteriak-teriak. Hehe..).
Maka langsunglah saya menyambar mie kimchi instant saya (lho? Iya, sebelum berenang saya memang punya kebiasaan makan mie kimchi – Ronn, dapat diperoleh di Hero Supermarket).

“Bik, minta telur donk…”
“Masak indomie yah, Mba? Bentar.. Bibik ambilin di kulkas ibu.” Bibik saya memang responsif, tapi ini bukan indomie, Bik. Ini Mie Kimchi. Sebungkusnya seharga Rp 6000, Ronn).

Sambil menunggu si Bibik, saya duduk di bangku dekat kolam renang, sambil membaca Kompas edisi hari itu.

“Ini telurnya, Mba.” Beberapa saat kemudian Bibik datang sambil membawa dua butir telur ayam.
“Banyak amat telurnya Bik. Satu aja ah.”
“Ini tadi dikasih Bapak emang dua, Mba. Biar Mba kuat, katanya.”
Kuat? Emangnya saya kepengen jadi binaragawati, apa?
“Lho, si Om bukannya ke Bandung ama Tante?”
“Bapak ga ikut, Mba. Lagi sakit.”

Seperti sinetron Indonesia, tiba-tiba si Bapak kost datang menjelang dengan terbatuk-batuk.

“Hey, you’re home. Where have you been?” Dia emang suka keEnglish-Englishan. Biasa, jenis pensiunan Pertamina yang sering berwisata keluar negri menikmati pesangonnya.
“Yeah, just arrived and will go out in view hours.”
Tips 1: Bapak kost yang sering berbahasa Inggris harus ditanggapi dengan bahasa Inggris pula.
“I thought you are in Bandung with the others.”
Tips 2: Basa-basi tetep perlu, bila ada kesempatan.
“Jaga rumah. Kalau pergi semua nanti ga ada yang nungguin.”
“Bukannya ada si Asep ama si Bibik?”
Disini saya lupa jawaban dia apa… sorry. Maklum, saya khan hanya basa-basi. Tapi yang jelas setelahnya dia bilang, “I’m lonely.”
Saya bergidik dengan cara dia bicara, lengkap dengan tatapan 'bujang asoy' yang dilemparkan ke saya.
“Om, saya lagi masak mie.” Jangankan ‘menangkap’ lemparannya, saya malah langsung kabur meninggalkan dia, menyusul Bibik ke dapur.
Eh, dia ngikutin. Mungkin berharap si Bibik ga ada di dapur.
Se-udzon banget ga sie, saya?
“Tadi saya kasih dua telurnya.” Dia berusaha membuka pembicaraan.
“Kebanyakan Om. Saya ambil satu aja”
Di samping saya, si Bibik nyuci-nyuci piring dengan cueknya. Hidup Bibik!
“Ya sudah, nanti kalau kurang ambil lagi saja.”

Dan dia pun berlalu, nongkrong di pinggir kolam renang.

Seketika saya membatalkan niat untuk berenang, sekalipun pada saat itu saya sudah mengenakan baju renang saya di balik baju rumah saya. Biarpun kadang-kadang sok jagoan, saya tetap tidak merasa nyaman dengan orang psycho (se-udzdon lagikah?) yang terakhir saya lihat sedang ngedon di pinggir kolam renang itu. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan.

Eniwei, saya belum berenang hari ini. Di luar (apartemen teman saya) sedang hujan…

0 Comments:

Post a Comment

<< Home